JakJazz 2025, Festival Jazz Legendaris yang Dibatalkan di Menit Terakhir

suarapena.id – Jakarta International Jazz Festival atau JakJazz, festival jazz tertua dan pertama berskala internasional di Asia Tenggara, sempat menjadi sorotan besar pada 2025. Setelah vakum enam tahun sejak edisi terakhir 2019, JakJazz direncanakan kembali pada 20 Desember 2025 di Senayan Park (SPARK), Jakarta, dengan tagline “Dari Sunyi Kembali Bersemi”. Namun, pada akhir November 2025, penyelenggara mengumumkan pembatalan acara karena “beberapa pertimbangan dan keadaan tak terduga”. Pengumuman ini mengecewakan banyak penggemar jazz yang sudah membeli tiket, meski refund diproses hingga 20 Desember. Artikel ini merangkum rencana awal, alasan pembatalan, dan warisan JakJazz sebagai bagian penting sejarah musik Indonesia.

Rencana Awal JakJazz 2025: Kembali dengan Semangat Regenerasi

JakJazz 2025 diumumkan pada September 2025 melalui acara media luncheon. Festival ini mengusung tema “Respecting the Legacy, Empowering the Youth”, fokus pada kolaborasi musisi senior dan junior Indonesia, dengan tamu internasional seperti Motoharu dari Jepang dan satu artis dari Amerika Serikat.

Lokasi di Senayan Park dipilih untuk kapasitas sekitar 4.500 orang dengan nuansa outdoor boutique. Selain panggung utama, ada side events seperti JakJazz Lab (workshop musik untuk sekolah mulai 2026), JakJazz City Beats (pop-up gigs), dan Appreciation Night untuk tribut musisi legendaris.

Tim penyelenggara dipimpin Festival Director Tommy Maulana (putra pendiri Ireng Maulana), Music Director Barry Likumahuwa, dan Chairman Sari Purnomo. Visi: Menghidupkan kembali jazz Jakarta sambil regenerasi talenta muda.

Alasan Pembatalan dan Respons Publik

Pengumuman pembatalan pada akhir November 2025 menyatakan acara dibatalkan karena “pertimbangan dan keadaan tak terduga”. Tidak ada detail spesifik, tapi spekulasi menyebut isu perizinan, pendanaan, atau logistik di venue Senayan Park.

Tiket yang sudah terjual direfund melalui form online hingga 20 Desember. Banyak penggemar kecewa, tapi memahami situasi. JakJazz tetap jadi bagian sejarah jazz Indonesia, didirikan Ireng Maulana pada 1988 sebagai festival jazz internasional pertama di Asia Tenggara.

Warisan JakJazz: Dari Era 1990-an hingga Hiatus

JakJazz pernah jadi highlight jazz Indonesia pada 1990-an hingga 2000-an, menghadirkan artis lokal seperti Indra Lesmana, Benny Likumahuwa, serta internasional. Vakum sejak 2019 karena pandemi dan tantangan organisasi.

Kembalinya yang gagal di 2025 menunjukkan tantangan festival musik di era pasca-pandemi, tapi semangat regenerasi tetap jadi inspirasi bagi event jazz lain seperti Java Jazz Festival.

Pengaruh Budaya JakJazz pada Musik Indonesia

JakJazz pernah jadi platform utama jazz lokal, mendorong kolaborasi lintas generasi dan memperkenalkan jazz ke publik luas. Meski 2025 batal, legacy-nya hidup melalui musisi seperti Natasya Elvira yang sempat diumumkan tampil.

Di masa depan, harapan JakJazz bangkit kembali dengan konsep lebih matang, mungkin bergabung program edukasi JakJazz Lab.

JakJazz 2025 yang batal tetap jadi cerita penting dalam sejarah musik Indonesia: dari sunyi kembali ke harapan, meski akhirnya tertunda lagi. Bagi penggemar jazz, ini pengingat betapa berharganya festival seperti ini untuk regenerasi talenta. Semoga edisi berikutnya benar-benar “bersemi” dan menghidupkan kembali gemuruh jazz di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *